Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi Angkat Bicara Soal “Haji” Filipina



Reporter:    /  @ 03:33:29  /  6 September 2016

    Print       Email
bupati

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat menanggapi soal warganya yang terjerat kasus “haji” Filipina. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ) 

MuriaNewsCom, Jepara – 14 orang dari 15 orang yang diketahui warga Jepara yang menjadi korban “haji” Filipina sudah dipulangkan. Menanggapi hal itu, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi angkat bicara. Menurut Marzuqi, kepulangan mereka membuat dia merasa gembira, sekaligus prihatin.

“Saya gembira sekali sekaligus prihatin. Gembira karena mereka sudah bisa pulang dan kembali ke kampung halaman masing-masing. Sedangkan prihatin karena saya mendapatkan kabar kalau mereka di Filipina diperlakukan tidak manusiawi. Selain itu juga mereka gagal berangkat Makkah untuk menunaikan ibadah haji,” ungkap Marzuqi kepada MuriaNewsCom, Senin (5/9/2016).

Menurutnya, berdasarkan informasi yang ia terima dari Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia di Filipina. Semua korban mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi. Salah satunya, mereka ditempatkan dalam satu tempat berisi 177 orang dan hanya ada satu atau dua toilet saja.

“Itu sangat memprihatinkan sekali. Mereka sempat ditahan di tempat yang sempit dan mendapatkan perlakuan yang tidak baik. Kedubes membutuhkan waktu selama beberapa hari untuk bisa berusaha menarik mereka untuk pindah ke kantor Kedubes Indonesia di sana,” terang Marzuqi.

Ia mengemukakan, warga Jepara yang sudah dipulangkan sekitar 14 orang. Terdiri dari 12 orang beralamat di Jepara sedangkan dua orang beralamat di luar Jepara namun masih warga Jepara. Selain itu masih ada satu orang yang belum bisa dipulangkan karena alasan sebagai saksi dalam kasus tersebut.

“Tujuan mereka sangat baik, yakni dalam rangka menyempurnakan agamanya yakni Islam dengan menunaikan ibadah haji. Namun di sini yang ingin saya tekankan bahwa haji hukumnya wajib bagi yang mampu. Sedangkan mampu maknanya tidak hanya masalah ekonomi tetapi juga yang lain, termasuk mampu dalam perjalanan yakni ketersediaan kendaraan,” jelasnya.

Lebih detail ia mengemukakan, makna mampu yang mewajibkan orang untuk berhaji ada empat perkara. Diantaranya adalah adanya biaya, sehat jasmani dan rohani, keamanan, dan ketersediaan kendaraan. Ketersediaan kendaraan itulah yang selanjutnya dapat dimaknai kuota. Ketika kuotanya belum cukup maka artinya kendaraan belum ada dan itu yang belum mewajibkan seseorang untuk berhaji.

“saya berharap agar mereka yang kena musibah itu tidak ditambah lagi bebannya. Tidak perlu ada proses-proses dan sorotan yang berlebihan, agar mental mereka dapat kembali normal,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →