Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Menggeliatkan Pasar Kliwon Kudus jadi Singapuranya Jateng



   /  @ 12:27:42  /  6 September 2016

    Print       Email
Akrom Hazami red_abc_cba@yahoo.com

Akrom Hazami
[email protected]

MELIHAT geliat Pasar Kliwon Kudus yang super ramai, dan berkembang pesat, rupanya membuat pemerintah setempat menjadikannya sebagai tempat dagang potensial. Tak tanggung-tanggung, mereka ingin agar Pasar Kliwon menjadi Singapuranya Jawa Tengah.

Itulah yang disampaikan bupati setempat, Musthofa, Minggu (4/9/2016) di hadapan sekitar 3.000 orang anggota Himpunan Pedagang Pasar Kliwon (HPPK). Tentu yang disampaikannya guna memberi semangat pejuangan kemerdekaan kepada para pedagang. Mengingat momen kegiatan jalan sehat ketika itu untuk memperingati HUT RI.

Sah-sah saja pemerintah menerapkan cita-cita tinggi kepada Pasar Kliwon. Toh, realitanya memang demikian. Siapa warga Kudus, Keresidenan Pati, atau mungkin pelaku konveksi yang tak tahu? Denyut nadi ekonominya luar biasa.

Putaran uangnya mencapai miliaran rupiah setiap hari. Bahkan, Pasar Kliwon mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 2.800 orang. Dari sumber yang dihimpun, Pasar Kliwon juga menyumbangkan dana ke khas daerah hingga jutaan rupiah per harinya.

Pasar Kliwon merupakan pasar terbesar di Kota Kudus. Bahkan di Keresidenan Pati. Pasar ini beroperasi setiap hari. Pasar ini merupakan pusat grosir tekstil dan konveksi terbesar se-Keresidenan Pati. Kurang lebih berdiri 2.355 kios. Dengan 75 % nya merupakan kios grosir konveksi dan tekstil.

Harga barang yang murah dengan barang yang tak kalah bagus, membuat pasar menjadi tujuan pedagang untuk kulakan. Atau membuat warga yang ingin membeli pakaian model baru, Pasar Kliwon bisa menjadi tujuan,

Tak sedikit pedagang dari luar daerah kulakan barang. Sebut saja, Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Kalimantan, Madura, Maluku, dan daerah lainnya. Hampir setiap hari, suasana pasar padat. Ribuan kendaraan terparkir di sekitar pasar. Saking banyaknya aktivitas pasar, arus lalu lintas di sekitar pasar kerap tersendat, hingga sampai macet. Momen jelang Lebaran Idul Fitri adalah salah satunya.

Sekarang pertanyaannya, sejauh mana persamaan Pasar Kliwon dengan perdagangan di Singapura? Jika yang jadi perbandingan adalah sama-sama menjadi sentra ekonomi, maka keduanya tepat disebut demikian.

Tapi soal yang lain-lainnya, jelas beda. Mulai dari penataan, serta penanganan kecarut-marutan pasar. Di Pasar Kliwon, kita masih kerap dihadapkan dengan masalah. Lihat saja dari awal. Mulai dari penataan parkir yang kurang tertata. Besaran uang parkir yang amat membebani warga.

Keluar masuk kendaraan pedagang yang semrawut kerap menjadi pemandangan sehari-hari. Kemudian, masalah pedagang seperti besaran retribusi, hak sewa, dan beragam masalah lain yang kerap menjadi keresahan tersendiri.

Cita-cita boleh saja tinggi. Tapi juga harus disesuaikan dengan penanganan yang bagus. Pemerintah dan pedagang harus berkoordinasi terkait kebijakan seperti apa yang diterapkan secara pas. Pembenahan mana saja yang harus dilakukan.   (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →