Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Warga Kendeng Temukan Sungai Bawah Tanah yang Tidak Disebutkan di Dokumen Amdal PT SMS



Reporter:    /  @ 13:30:35  /  5 September 2016

    Print       Email
 Ibu-ibu warga Kendeng menggelar aksi damai bertajuk Kendeng Ngrungkebi Bumi Mina Tani di depan DPRD Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Ibu-ibu warga Kendeng menggelar aksi damai bertajuk Kendeng Ngrungkebi Bumi Mina Tani di depan DPRD Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Kendeng yakin bila Pegunungan Kendeng yang membentang di wilayah Pati bagian selatan adalah bagian dari pegunungan purba yang wajib dilindungi keberadaannya. Mereka juga yakin, banyak kekayaan situs bersejarah yang tersimpan di dalamnya.

Lebih dari itu, Pegunungan Kendeng diakui sebagai “paku bumi”, penjaga keseimbangan ekosistem yang sangat vital karena masuk dalam kawasan bentang alam karst (KBAK) Sukolilo. Bila kawasan ini rusak akibat penambangan pabrik semen, kehidupan yang ada di lingkungan ini juga akan terancam keberadaannya.

Hal itu yang membuat sejumlah warga Kendeng mencoba untuk melakukan pemetaan lingkungan di kawasan yang akan dibangun pabrik semen PT Sahabat Mulia Sakti (SMS), anak perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dari hasil pemetaan pada Sabtu (27/08/2016), warga menemukan sungai bawah tanah.

Ironisnya, keberadaan sungai bawah tanah itu tidak disebutkan dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) PT SMS. “Dalam dokumen AMDAL, hanya ada 24 mata air saja dan tidak menyebutkan kalau ada sungai bawah tanah,” ungkap Gunretno, Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), Senin (05/09/2016).

Karena itu, mereka berupaya untuk memperjuangkan agar izin pendirian pabrik semen PT Indocement dicabut sampai titik darah penghabisan. Pasalnya, kerusakan pegunungan Kendeng disebut akan menimbulkan bencana ekologis yang destruktif dan masif.

“Saat ini, kami bersama warga Kendeng mengawal penyerahan memori kasasi di PTUN Semarang. Kami menilai, ada kejanggalan hukum dari PTTUN Surabaya. Bagaimana bisa, sama-sama hakim yang bersertifikasi lingkungan, tetapi hasil putusannya berbeda. Ini menjadi tanda tanya yang sangat besar. Putusan majelis hakim PTTUN Surabaya ada persoalan yang harus dibongkar. Jangan sampai keselamatan warga Pati digadaikan dengan kepentingan kapitalisme korporasi,” pungkasnya

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Taman Bajomulyo Juwana Dikembangkan Jadi Objek Wisata

Selengkapnya →