Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Dan Kali Ini, Kisah Kaji yang Gagal ”Nunut”



Reporter:    /  @ 09:15:56  /  5 September 2016

    Print       Email
Siti Merie  merqi194@yahoo.com

Siti Merie
merqi194@yahoo.com

NUNUT adalah kata dalam Bahasa Jawa. Artinya, menumpang. Dan ini beberapa cerita bagaimana seseorang yang nunut. Bukan sekdar nunut yang biasa-biasa saja, melainkan me-nunut-i (maafkan kalau bukan dalam Bahasa Indonesia dengan EYD yang benar), sesuatu yang luar biasa.

Kisah nunut pertama adalah kisah seorang pria bernama Choiron, warga Jombang, Jawa Timur. Pada tahun 1992, pria ini begitu terkenalnya di Indonesia. Dia bergelar haji atau kaji dalam sebutan sehari-hari masyarakat di jalur pantura. Choiron menjadi terkenal, lantaran sempat nunut pergi ke Arab Saudi, saat musim haji tiba.

Choiron barangkali memang memiliki tekad kuat setinggi langit sap pitu. Tanpa uang sama sekali, dia nekat ikut serta dalam rombongan jamaah haji yang berangkat saat itu. Dan berhasil sampai ke Arab Saudi sana. Meski akhirnya ketahuan juga, karena saat masuk ke Mekah, dia tidak bisa menunjukkan segala bentuk identitas yang dibutuhkan seseorang bila ingin pergi haji.

Ikhtiarnya untuk bisa mendapat predikat haji sungguh luar biasa. Nyaris tanpa uang sama sekali, tanpa proses administrasi (apalagi imigrasi), Choiron bisa menyusup ke Bandara Juanda, kemudian masuk pesawat Garuda, lantas terbang ke Arab Saudi sana. Meski akhirnya dipulangkan lagi lantaran tidak memiliki surat apapun yang menyatakan dia bisa menjadi tamu Allah SWT. Namanya juga tidak terdaftar sebagai jamaah haji sama sekali.

Karena itu, sewaktu Choiron pulang, dia lantas digelari kaji nunut oleh semua orang. Meski nunutnya sampai bandara saja, namun hal itu sudah luar biasa. Namun akhirnya, berkat kebaikan banyak orang, Choiron benar-benar pergi haji. Hanya saja, gelar kaji nunut sudah terlanjur melekat pada dirinya.

Kisah kedua soal nunut ini, terjadi pada 177 warga Negara Indonesia, yang diketahui menggunakan paspor asli tapi palsu (aspal) agar bisa sampai ke rumah Tanah Suci. Yang dipilih mereka adalah menjadi ”warga negara” Filipina, supaya bisa menjadi tamu Allah SWT. Sesuatu yang sangat didambakan orang muslim di manapun di dunia ini.

Di antara ratusan WNI itu, terselip 11 orang warga Kabupaten Jepara. Mereka ikut serta di dalam rombongan ratusan orang tersebut, yang ternyata juga harus tertahan keinginannya untuk berhaji, karena terlanjur ketahuan pihak imigrasi Filipina. Meski memakai paspor Filipina, yang punya negara memutuskan mereka sama sekali tidak cocok profilnya sebagai warga sana. Walhasil, ratusan orang itu harus diperiksa dengan intensif, sampai akhirnya dipulangkan kemudian. Alhamdulillah, sebagian besar sudah berkumpul kembali dengan keluarga mereka di rumah. Meski akhirnya tanpa titel haji di depan nama mereka.

Mereka juga korban dari kisah nunut ini. Ceritanya bermula dari negara Indonesia yang punya penduduk ratusan juta jiwa ini, hanya diberi kuota haji oleh Pemerintah Arab Saudi dengan jumlah yang terbatas. Yakni kurang lebih hanya 180 ribu saja. Padahal, jutaan warga Indonesia yang mayoritas Islam ini, begitu rindu untuk bisa hadir langsung di depan rumah Allah SWT. Pantas saja kalau kemudian antrean berangkat haji di negeri ini, mengerikan sekali. Bisa mencapai puluhan tahun lagi kalau seseorang baru mendaftarnya di tahun ini. Bayangkan saja, mengumpulkan dana untuk pergi haji saja, banyak orang harus melaluinya dengan perjuangan yang tidak mudah dan lama. Belum harus menunggu antrean yang panjangnya melebihi apapun di dunia ini. Coba rasakan, bagaimana kerinduan itu begitu memuncak setiap saatnya untuk pergi haji, sampai belasan tahun kemudian, jatah antrean itu akhirnya datang.

Rupanya, celah ”kerinduan” para calon haji ini, dibaca jelas oleh mereka yang memiliki pemikiran terlalu luas. Diliriklah kuota haji negara-negara yang penduduk muslimnya terbilang sedikit. Negara yang juga mendapat kuota itu, rupanya tidak banyak memanfaatkannya. Dan ini menjadi peluang bisnis menggiurkan bagi sebagian orang. Kuota berlebih ini, ditawarkan kepada warga Indonesia yang sudah sangat ingin pergi haji. Istilahnya, hajinya ”dinunutkan” Filipina, daripada kuota tersebut menganggur.

Jika Choiron hanya sekadar nunut jadi penumpang pesawat untuk sampai Mekah, ratusan calon haji ini nunut jatahnya tetangga, supaya juga bisa pergi ke sana. Semuanya terasa sudah sistematis. Paspor asli asal Indonesia didapat, lantas mereka pergi ke Filipina, yang kemudian diberikan paspor Filipina. Jadilah mereka ”ganti” kewarganegaraan. Jika lolos, mereka bisa menunaikan ibadah haji, dapat gelar haji, lantas pulang dengan rute yang sama. Sayangnya, kali ini gagal semuanya.

Disebut sistematis, pasalnya urusan nunut satu ini juga diurus dengan serius oleh kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH). Calon haji yang tertarik itu, diminta membayar ratusan juta, untuk bisa ”menikmati” potong jalur antrean ini. Dan ketika ada KBIH yang mengatakan jika pihaknya tidak mengetahui jika nunut kuota haji negara lain adalah sesuatu yang ilegal, apalagi memakai paspor negara lain, rasanya sangat naif sekali untuk bisa dipercaya. Entah kenapa mereka seolah-olah menjadi bodoh akan aturan atau hukum sebuah negara. Bagaimana pemilik KBIH ini meyakinkan calon haji bahwa proses yang mereka lalui adalah sesuatu yang dibenarkan. Sesuatu yang lantas mudah dilakukan, dan akhirnya semua akan baik-baik saja. Lantas seberapa tidak mengertinya mereka para calon haji ini, sehingga mau ikut serta di dalamnya.

Kisah ini lantas mengingatkan bagaimana kisah mantan Menteri ESDM Archandra Tahar. Seorang menteri yang tercatat dalam rekor sebagai menteri dengan masa jabatan terpendek. Archandra ”terpaksa” diberhentikan Presiden Jokowi lantara memiliki paspor Amerika Serikat. Negara yang sudah sekian lama ”dinunutinya” untuk hidup. Pasalnya, negara Indonesia tidak mengenal dua kewarganegaraan. Apalagi seorang pejabat negara. Lah, wong Gloria yang masih di bawah umur saja, nyaris kehilangan kesempatannya untuk mengibarkan bendera pusaka, saat upacara 17 Agustus 2016 lalu. Gara-garanya, dia juga punya paspor Prancis, karena ayahnya berasal dari sana. Padahal, Gloria tidak pernah nunut hidup di negara yang punya Menara Eiffel itu.

Lantas apa hiruk pikuk Archandra dan Gloria ini, tidak pernah dibaca atau didengar atau diikuti para calon haji ini? Apakah para pengelola KBIH itu juga tidak pernah mengetahui ini? Padahal media massa, baik televisi, koran, dan aneka jenis media lainnya, tidak ada yang tidak memberitakan saat peristiwa ini terjadi. Lantas apa yang kemudian dilihat, didengar, dibaca oleh orang-orang itu selama ini.

Ada yang terasa gagal di sini. Pemerintah membuat berbagai keputusan, aturan, dan kebijakan, yang seharusnya bisa diketahui dan dilaksanakan masyarakatnya. Termasuk soal urusan kewarganegaraan ini. Jika alasannya hanya karena mereka adalah orang-orang desa yang tidak bisa mengakses informasi apapun, rasanya sulit juga diterima. Para calon haji gagal nunut ini, pastinya memiliki akses dari berbagai pihak untuk bisa mengetahui aturan sebenarnya dari proses mereka berangkat. Atau mereka memang tidak peduli hal-hal seperti ini, dan membiarkan orang lain mengurusnya.

Apa yang sudah diupayakan pemerintah melalui kebijakannya, ternyata gagal dipahami rakyatnya sendiri. Atau bahkan yang tragis adalah rakyat tidak peduli lagi. Sampai akhirnya rakyat sendiri merasakan akibatnya. Bukan semata karena salah pemerintah, namun justru ketidakpedulian itu yang terasa jadi ironi. Peristiwa haji gagal nunut ini, harusnya jadi momentum pemerintah, baik tingkat pusat hingga daerah, untuk lebih menyosialisasikan aturan-aturan yang benar mengenai hal ini. Apa sebenarnya hak dan kewajiban kita sebagai warga negara, harusnya lebih dipahamkan lagi. Atau kita akan melihat lebih banyak lagi, haji-haji nunut yang muncul dan berbangga hati meski mereka sudah menabrak sekian banyak aturan. (*)

Komentar

komentar



    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Taman Bajomulyo Juwana Dikembangkan Jadi Objek Wisata

Selengkapnya →