Loading...
You are here:  Home  >  Editorial  >  Artikel ini

Kisah Siti, Sosok Dibenci Tapi Dirindu dari Sebuah Fenomena Karaoke



Reporter:    /  @ 10:30:05  /  29 Agustus 2016

    Print       Email
Siti Merie  merqi194@yahoo.com

Siti Merie
[email protected]

INI kisah Siti, dari sebuah film yang berjudul sama, yang meski tidak tayang di bioskop-bioskop besar, namun memenangkan sejumlah penghargaan di luar negeri. Siti adalah seorang perempuan muda berusia 24 tahun, tinggal di pesisir pantai Yogyakarta. Pagi sampai sore, Siti menjual keripik kepada setiap wisatawan yang datang ke pantainya itu. Sementara dari malam hingga pagi lagi, Siti memiliki pekerjaan lain yang tidak kalah menghidupi.

Pemandu karaoke. Ya, malam hari Siti bekerja sebagai pemandu karaoke di lokasi karaoke yang juga tidak jauh-jauh dari tempat tinggalnya. Setiap malam, Siti menemani para lelaki yang datang untuk memuaskan diri, dengan bersenang-senang. Menyanyi, bahkan bisa lebih.

Satu hal yang lantas juga harus diwaspadai Siti adalah, ketika aparat datang untuk merazia lokasi karaoke tempatnya bekerja. Artinya, satu malam akan berlalu tanpa dirinya sempat mendapatkan pundi-pundi rupiah. Karena petugas setiapkali razia, selalu saja pemandu karaoke menjadi ”korbannya”. Diminta berhenti melayani tamunya, sementara mungkin dia baru mulai bekerja. Kalau di film Siti ini, bahkan salah satu aparat yang melakukan razia, kemudian jatuh cinta kepada Siti. Dan meminta Siti untuk menjadi istrinya. Meski tahu, Siti telah memiliki seorang suami dan satu orang anak.

Alasan klasik kenapa Siti harus bekerja keras setiap hari dan malamnya, adalah karena kehidupan perekonomiannya yang tidak baik. Sang suami sakit lumpuh akibat kecelakaan saat melaut, sedangkan yang harus ditanggung biayanya juga ada sang anak dan mertua dalam satu rumahnya. Akhirnya, jalan keluar paling pintas adalah menjadi pemandu karaoke, selain berjualan keripik di siang harinya.

Dan kisah Siti ini bukan hanya ada di film saja. Banyak sekali Siti-Siti yang lain, yang juga bernasib serupa. Terdampar di tempat karaoke, untuk menjalankan sebagian fungsinya menjadi manusia, yakni mencari penghidupan yang layak. Menjadi pemandu karaoke, mungkin menjadi jalan terpintas yang pernah dipikirkan mereka. Tentu saja banyak faktor lainnya yang melatarbelakangi.

Namun dari banyak cerita, pendapatan pemandu karaoke dalam satu bulannya bisa mencapai Rp 5 juta. Itu adalah pendapatan rata-rata dari pemandu karaoke di kawasan Muria ini. Bahkan mungkin bisa lebih jika dirinya adalah salah satu pemandu yang favorit. Entahlah. Karena pendapatan mereka juga tidak pernah terbaca secara resmi. Dalam artian, kita tidak paham apakah kemudian mereka harus membayar pajak penghasilan setiap bulannya, sehingga bisa dirata-rata berapa sebenarnya pendapatan mereka. Toh, memang tidak akan ada yang pernah mencantumkan pekerjaan sebagai pemandu karaoke dalam kartu tanda penduduk.

Namun yang pasti, dalam setiap razia lokasi karaoke yang sering dilakukan petugas, pemandu karaoke selalu menjadi pihak yang ”kalah”. Mereka akan menjadi sosok pertama yang dikumpulkan para petugas itu, kemudian dilakukan pendapataan, diminta KTP-nya, jika perlu diminta datang ke kantor lembaga atau instansi yang melakukan razia.

Bandingkan dengan para tamu yang mempergunakan jasa pemandu. Tidak ada tindakan kepada mereka, selain hanya diminta pulang. Apalagi kepada pengelola karaoke. Nyaris tidak ada, kecuali misalnya lokasi karaoke mereka disegel yang bisa dibuka kapan saja mau. Tapi para pemandu ini, harus kehilangan satu malam mereka bekerja. Artinya, kesempatan mendapatkan honor juga berkurang satu malamnya. Berarti mereka harus tambah bekerja keras lagi di malam berikutnya.

Perempuan-perempuan ini, bahkan banyak yang masih berusia muda kala menjalani profesi tersebut. Kalau di KTP mereka bisa berusia lebih dari 18 tahun, namun dari wajahnya, bisa terlihat bahwa mereka masih kategori anak-anak. Meski berbalut dengan begitu tebalnya make up, namun wajah polos khas anak baru gede (ABG) tidak bisa tertutupi dengan itu. Mereka juga dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya tiba. Meski sebenarnya kedewasaan tidak pernah berhubungan dengan umur seseorang.

Banyak daerah memang ”mengharamkan” adanya karaoke. Meski sebenarnya tidak ada yang salah dengan karaoke, karena undang-undang juga menyatakan bahwa tidak ada larangan jika kemudian seseorang ingin mendirikan tempat karaoke. Hanya saja karena karaoke termasuk sesuatu yang sensitif, banyak daerah lantas mengakali undang-undang yang ada. Pemerintah daerah lantas memperketat aturan pendirian sebuah karaoke. Bahkan ada juga daerah yang pembahasan mengenai hal ini, tidak selesai-selesai dilakukan juga. Mungkin banyak kepentingan yang harus diakomodir dalam perda itu, sehingga harus hati-hati dalam menentukan setiap pasalnya. Yang jelas, terkesan lebih suka membiarkan begitu saja lokasi karaoke ada di daerahnya, sementara aturannya nanti-nanti dulu saja. Artinya, lokasi karaoke menjadi lokasi liar yang hanya membuat penegak perdanya sesekali melakukan razia.

Ambil contoh saja di Kabupaten Kudus. Tidak ada larangan untuk pendirian sebuah lokasi karaoke. Karena kalau dilarang, akan melanggar undang-undang yang merupakan aturan tertingginya. Untuk itu, pemerintahnya lantas memperketat aturan pendirian karaoke ini. Yakni hanya dengan memperbolehkan lokasi karaoke, sebagai salah satu fasilitas di hotel berbintang lima saja. Sementara di satu sisi, tidak ada satupun hotel di Kudus yang berkategori bintang lima. Jadi, seluruh lokasi karaoke yang tidak memenuhi syarat itu, memang harus ditutup.

Dampaknya jelas. Akan ada banyak yang kemudian menjadi ”korban” dari aturan ini. Salah satunya memang pemandu karaoke. Terputusnya pekerjaan mereka dalam sekejap itu, tentu saja akan menimbulkan kebingungan. Meski mereka bisa berpindah ke lokasi atau daerah lain, namun hal yang sama akan terus terjadi. Begitu seterusnya, tanpa ada solusi konkrit dari pemerintah setempat untuk memikirkan bagaimana nasib perempuan-perempuan itu ke depannya.

Masih sedikit program-program yang dibuat pemerintah, untuk mengatasi persoalan tersebut. Atau memang lebih memilih untuk membiarkannya menggantung begitu saja. Atau mungkin karena perempuan-perempuan itu tidak mengerti mau kemana untuk bertanya, apakah memang tidak ada solusi yang bisa lebih baik yang ditawarkan bagi mereka. Pemerintah harusnya bisa terus menerus membuat pintar para perempuan, karena peran mereka yang luar biasa sangat penting dalam mempersiapkan generasi berikutnya.

Pemerintah bisa membuat pintar perempuan dengan memberikan mereka banyak pengetahuan, ketrampilan, dan wawasan. Jika jalur resmi pendidikan tidak bisa diraih, pemerintah harus membuat jalur khusus supaya para perempuan itu bisa memiliki ketrampilan untuk membuat hidupnya sejahtera. Setidaknya dengan memiliki beragam ketrampilan, perempuan akan memiliki kekuatan tersebut untuk bisa mandiri. Untuk menciptakan negara yang baik, maka membuat pintar perempuan ada sebuah hal yang wajib dilakukan. Anda tidak akan pernah tahu bagaimana kekuatan seorang perempuan sebenarnya. Mereka sosok luar biasa, yang lantas bisa menciptakan sesuatu yang luar biasa juga.

Sosok Siti-Siti ini, tentu saja akan terus kembali. Akan terus muncul di masa-masa mendatang. Siti menjadi sosok yang dibenci namun dirindukan. Tergantung dari sudut pandang mana Anda melihatnya. Siti dan karaoke barangkali tidak akan bisa berhenti mewarnai hidup dan kehidupan seseorang. Selama masih ada permintaan, maka Siti-Siti ini akan terus. Namun, setidaknya kalau semua pihak bisa membuat pintar perempuan, maka Siti-Siti ini barangkali bisa lebih mandiri. Mari buat pintar perempuan. (*)

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →