Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini

Ketika Kroscek ke PLTU, Ini yang Dialami Pegawai dari Dinsosnakertrans Rembang



Reporter:    /  @ 21:05:54  /  26 Agustus 2016

    Print       Email
Kabid Hubungan Industri dan Pengawas Tenaga Kerja pada Dinsosnakertrans Rembang Abdul Malik. Pihaknya mengaku alami kesulitan ketika melakukan kroscek ke PLTU (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kabid Hubungan Industri dan Pengawas Tenaga Kerja pada Dinsosnakertrans Rembang Abdul Malik. Ketika mengkroscek ke PLTU terkait insiden kecelakaan kerja, dirinya mengaku alami kesulitan untuk masuk ke PLTU (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Insiden kecelakaan kerja di PLTU Sluke, Rembang, yang terjadi beberapa hari lalu mengakibatkan empat orang  menjadi korban. Salah satunya meninggal setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit, dan 3 lainnya juga mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Terkait insiden ini, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Rembang melakukan kroscek secara langsung ke PLTU setelah dua hari kejadian. “Kejadiannya itu kan Kamis, jadi Sabtu kami ke sana. Karena, hingga Sabtu itu pihak PLTU belum memberikan laporan terhadap kami. Padahal, aturannya kan 2 X 24 jam sudah harus ada laporan, baik itu secara lisan atau tulisan,” ujar Kabid Hubungan Industri dan Pengawas Tenaga Kerja pada Dinsosnakertrans Rembang Abdul Malik.

Menurutnya, ketika melakukan kroscek tersebut, dirinya mengaku cukup kesulitan untuk bisa masuk ke PLTU. Padahal, menurutnya, dia sudah menggunakan seragam dinas dan mengenakan identitas. “Untungnya ketika itu saya mengajak teman dari dinas, yang kebetulan kenal dengan salah satu karyawan PLTU, jadinya diizinkan masuk. Tapi seharusnya kan tidak seperti itu,” imbuhnya.

Menurut dia, pengetatan prosedur itu memang perlu. Namun jika ada orang Dinsosnakertrans masuk untuk melakukan kroscek, seharusnya tidak dipersulit. Apalagi, katanya, pegawai yang datang ke tempat tersebut menggunakan seragam dan identitas.

“Kita juga tidak tahu, apakah memang prosedur untuk masuk ke PLTU sewaktu ada kejadian kecelakaan kerja ini sulit, atau memang ada tujuannya sendiri. Tetapi, seharusnya ketika kami menjalankan tugas untuk mengkroscek, bisa diberikan akses lebih mudah,” katanya.

Dia menambahkan, terkait dengan insiden kecelakaan kerja tersebut, pihaknya bakal mengawasi perkembangan  PLTU. “Sehingga kejadian ini bisa dijadikan pembelajaran untuk mengevaluasi kinerja, peralatan dan sebagainya,” imbuhnya.

Sementara itu, General Manager PLTU Rembang Yudi Bhagaskara mengatakan, terkait insiden kecelakaan kerja di PLTU, menurutnya, peralatan masih laik pakai. Kemudian, penggunaannya disebut sudah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

“Kita juga sudah menjalankan SOP dengan benar. Kalau namanya kecelakaan kerja itu kan nggak bisa dikira. Ketika terjadi kecelekaan kerja itu, kita juga langsung mengevakuasi korban untuk dibawa ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan dengan baik,” ujarnya.

Menurutnya, dalam kejadian tersebut, para pekerja juga tidak tahu bahwa di dalam tabung yang bocor itu masih ada sisa air. Sehingga ketika katupnya di buka ternyata memuncratkan air hingga mengenai tubuh pekerja.

“Kejadian itu memang tidak disangka-sangka, padahal pengukur tekanan suhu juga jarumnya sudah di angka nol. Namun yang terjadi bisa berbeda dengan keadaan aslinya, yakni masih ada uap dan sisa air panas. Tentunya, dengan kejadian ini kami akan mengevaluasi semua,” katanya.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

bupati pati e

Baliho Bakal Calon Bupati Pati Terpasang di Pohon Pakai Paku di Kudus

Selengkapnya →