Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

“Kudus Rugi Wajibkan Belajar 12 Tahun kalau Makannya Beras Miskin Buruk”



Reporter:    /  @ 10:49:50  /  24 Juni 2016

    Print       Email
Jpeg

Bupati Kudus Musthofa melakuka pemeriksaan data penerima raskin. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa mengatakan beras miskin yang dijual di pasar itu tidak layak dikonsumsi. Karena tidak mengandung gizi yang baik untuk tubuh.

“Ya, tidak layak untuk menambah gizi. Rugi dong, Pemda Kudus memberikan anggaran pendidikan secara maksimal dengan cara mewajibkan belajar selama 12 tahun supaya pintar. Malahan memakan beras miskin yang memang tidak layak dikonsumsi,” kata Musthofa sambil menunjukan laporan kegiatan.

Sementara itu, dirinya juga akan menghitung ulang jumlah penerima  beras miskin tersebut. Sehingga bisa memastikan persentase warga miskin yang ada di Kudus.

Hal tersebut terkait temuan raskin dijual di Pasar Bitingan Kudus. Selanjutnya, ia meminta dilakukan validasi data penerima raskin serta hal-hal yang menyangkut penjelasan dan ketentuan soal kualitas bahan pangan pada program tersebut.

“Saya menduga penerima beras miskin itu juga ada yang kaya atau mampu.Sehingga beras ini juga dijual untuk ditukarkan uang atau juga dijual lantaran kualitasnya jelek,” tuturnya.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, saat ini ada sekitar 35 ribu Rumah Tangga Sasaran (RTS) penerima beras miskin itu akan dikaji ulang. Supaya bisa tepat sasaran.

“Yang penting itu cara menyelesaikannya bagaimana, dan jangan asal tunjuk kesalahan dari instansi lain atau sebagainya. Yang penting kita cari jalan keluarnya,” tambahnya.

Dia melanjutkan, harus ada kaji ulang terkait mekanisme distribusinya seperti apa. Jangan sampai tujuan mulia pemerintah, tapi impelementasinya atau praktiknya di lapangan, buruk.

“Yang penting pendataan itu bisa mulai dari tingkat RT hingga selanjutnya. Supaya data dan alamatnya cocok atau by name by address. Selain itu, jajaran pemerintah desa hingga seterusnya juga bisa saling berkoordinasi dan selalu memantau dengan data yang ada. Serta bisa valid data tersebut,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Positif  Sakit Jiwa, Pembunuh Ibu Kandung di Kudus Dibawa ke RSJ

Selengkapnya →