Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

‘Stop Kekerasan Seksual! Ajari Laki-laki untuk Tidak Memerkosa’



Reporter:    /  @ 13:00:58  /  19 Juni 2016

    Print       Email
Salah satu spanduk atau banner yang dipasang oleh Tim JPPA Kudus di Jalan Jendral Sudirman (timur Polres Kudus). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu spanduk atau banner yang dipasang oleh Tim JPPA Kudus di Jalan Jendral Sudirman (timur Polres Kudus). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – “Stop kekerasan seksual! Ajari laki-laki untuk tidak memerkosa, lindungi perempuan dan anak dari kekerasan seksual.” Begitulah salah satu bunyi tulisan di spanduk yang terpasang di salah satu sudut Kota Kudus.

Ya, inilah tulisan yang merupakan imbauan agar tidak lagi terjadi kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak, yang sengaja dipasang oleh Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA) Kudus. Hal ini juga merupakan bentuk kegelisahan dari JPPA yang melihat semakin maraknya kasus kekerasan seksual, baik terhadap anak maupun perempuan.

Tulisan itu hanyalah satu dari beberapa spanduk yang berisi imbauan yang dipasang JPPA Kudus. Selain itu, ada juga tulisan “Gerakan laki- laki untuk menghormati dan peduli terhadap perempuan dan anak”, “Laki-laki harus menghormati dan melindungi perempuan serta anak” dan lain sebagainya.

“Spanduk imbauan ini kita pasang di beberapa titik di Kudus, di antaranya di Jalan Jendral Sudirman (seelah timur Polres Kudus), Perempatan Jember, dan Jalan Ahmad Yani (sebelah timur PLN Jati Kudus),” ujar Ketua JPPA Kudus Noor Haniah  kepada MuriaNewsCom, Minggu (19/6/2016).

Dengan adanya imbauan tersebut, diharapkan dapat memberikan pembelajaran terhadap masyarakat Kudus, sehingga, nantinya angka kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak dapat ditekan.

“Untuk tahun 2015 saja yang ditangani JPA Kudus ada sekitar 42 kasus, baik itu kekerasan perempuan (KDRT), kekerasan anak, pelecehan seksual, pemerkosaan dan sejenisnya. Sedangkan untuk 2016 ini, mulai Januari hinga Juni 2016 , ada sekitar 18 kasus. Mulai dari pemerkosaan anak, kekerasan terhadap anak dan perebutan hak asuh anak,” bebernya.

Dia menambahkan, untuk kejahatan semacam itu, di saat atau zaman sekarang bukan hanya dilakukan secara persorangan saja.Melainkan juga secara bersama-sama, berkelompok atau berramai ramai. Sementara itu, efek dari kejahatan itu dapat menimbulkan depresi yang sangat luar biasa bagi korban.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Kosek Kos-kosan dan Penginapan, 9 Pasangan Mesum di Grobogan Terjaring

Selengkapnya →