Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Pati  >  Artikel ini
CERITA RAMADAN

TKI Pati di Korsel, Bikin Sambal Tomat dan Sayur Bening



   /  @ 13:30:37  /  16 Juni 2016

    Print       Email
Santiko (Foto Dok Pribadi)

Santiko (Foto Dok Pribadi)

 

MuriaNewsCom, Pati- Santiko adalah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di salah satu pabrik di bagian packing plastik, di Kota Daegu, Korea Selatan.

Tahun 2016 ini, untuk keempat kalinya ia berpuasa sekitar 17 jam sehari. Karena Ramadan jatuh pada musim panas.

Menurut pemuda Desa Sonorejo, Jakenan, Pati yang bermukim di Daegu, yang paling berat ia rasakan pada Ramadan adalah menahan rindu kepada keluarga dan suasana puasa di Pati.

Ia sadar, sebagai lelaki tentu punya tanggung jawab untuk mencari nafkah, demi membahagiakan orang tua dan keluarga.

“Cmn sekali dua kali tentu ada fikiran untuk bisa sahur dan buka puasa bareng keluarga. Rasanya juga beda bersahur/berbuka di negara orang,” kata Santiko kepada MuriaNewsCom melalui chat di Facebook, Rabu (15/6/2016).

Soal menu sahur atau buka puasa, ia mengaku tak masalah. Tak jauh dari tempat mukimnya, ada beberapa minimarket, dan toko yang menjual makanan Indonesia. Tapi yang sering dilakukannya adalah memasak menunya sendiri. Supaya keinginannya untuk melahap makanan Indonesia bisa terpenuhi.

“Jadi tergantung kita mau masak apa saja. Kadang masak sayur bening+sambel tomat krna udah lama kan gak makan sayur bening. Kadng juga bikin opor ayam,gule kambing, dan krupuk bulat juga,” ungkapnya.

tki ramadan

Santiko bersama temannya melahap menu buatan sendiri (Foto Dok Pribadi)

 

Ia juga bersyukur karena tidak mengalami kendala selama menjalankan puasa di Negeri Gingseng. Bos tempatnya bekerja amat mengerti dengan pekerjanya yang berpuasa.

Apalagi bos wanita, (Samonim) sering kali memberi kesempatan pekerja yang muslim untuk berbuka puasa ketika tiba waktunya. Termasuk juga memberi waktu sekita 30 menit untuk menunaikan Salat Magrib. “Mesin pabrik dijaga bos wanita tadi,” ujarnya.

Suasana di lingkungan tempatnya kerja juga mendukung. Seperti keberadaan musala Al Mu’min. Musala itu baru setahun diresmikan. Selama Ramadan, di musala baru banyak dilakukan kegiatan. Mulai dari Salat Tarawih berjamaan, tadarusan, dan lainnya.

Jika ia dapat bagian sif malam, tentu tidak ikut Salat Tarawih. Ia bisa leluasa Tarawih saat dapat sif siang. Suasana itulah yang membuat Ramadannya di negeri orang tetap terjaga.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Letkol Andri Serahkan “Mahkota” Kepemimpinan Kodim 0718/Pati untuk Letkol Arief

Selengkapnya →