Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini
CERITA RAMADAN

Mahluk Gaib Bangun Langgar Bubrah Kudus



Reporter:    /  @ 19:35:18  /  14 Juni 2016

    Print       Email
bubrah 1 e

 Pengendara motor melintas di depan Langgar Bubrah, yang diyakini dibangun dengan bantuan makhluk gaib. (MuriaNewsCom / Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Langgar Bubrah, apa ini? orang langsung membayangkan sebuah bangunan musala yang rusak atau belum jadi. Dan memang, Langgar Bubrah yang berada di Desa Demangan RT 3 RW 1 Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, ini dipercaya warga sekitar adalah musala yang belum terbangun sempurna.

Penyebabnya, makhluk gaib yang ikut membangun musala ini kepergok warga, sehingga proses pembangunannya ditinggalkan begitu saja. Langgar itu diyakini dibangun oleh kehendak Raden Pangen Pantjowari sekitar tahun 953 H atau sekitar tahun 533 M. Saat itu, Masjid Menara Kudus belum terbangun.

Hal itu dituturkan oleh Fahmi Yusron, sang juru pelihara Langgar Bubrah. Menurut dia, bangunan tua langgar itu memang terkesan belum jadi secara sempurna.

“Lantaran proses pembangunan oleh Raden Pengeran Poncowati itu dibantu makhluk gaib. Tapi dalam pembangunannya itu diketahui oleh masyarakat sekitar, sehingga pembangunannya tidak terselesaikan. Namun anggapan itu harus kita hormati,” kata Yusron, Selasa (14/6/2016).

Menurut dia, kepercayaan seperti sah-sah saja. Tak hanya soal adanya makhluk gaib yang ikut membangun langgar itu, ada kepercayaan yang muncul dari tiga batu yang ada di depan langgar. Salah satu batu disebut sebagai yoni atau keperkasaan seorang pria. Satu batu yang berbentuk bulat dan ada lubang di tengahnya disebut sebagai tempat pemujaan.

Dan satu batu lagi yang berbentuk kotak panjang dianggap sebagai tempat semedi. Namun anggapan-anggapan itu tak terlalu ia pusingkan.

“Kalau menurut saya, Langgar Bubrah ini dibangun oleh Raden Pangeran Pontjowati suami dari Putri Brojobinabar putri ke 8 Sunan Kudus. Beliau membangun langgar ini pada tahn 953 H atau 566 M,” ungkapnya.

Jpeg

Tiga batu legendaris masih utuh berada di depan Langgar Bubrah. (MuriaNewsCom / Edy Sutriyono)

Dia menilai, pembangunan langgar itu lantaran diperintah oleh Sunan Kudus. Supaya Raden Pangeran Pontjowati bisa ikut serta menyebarkan Islam di kawasan Kudus bagian selatan.

“Dahulunya langgar itu memang sebagai babat alasnya penyebaran Islam di Kudus sebelum terbangunnya Menara. Selain itu, langgar ini juga terbangun utuh dengan bentuk satu soko guru, satu atap (berbentuk payung), serta berpondasikan segi empat dengan bata kuno, dengan luas 9mx10m. Sementara atap yang sekarang hanya untuk pengaman benda ini saja,” paparnya.

Selain itu dirinya jga berpendapat bahwa nama Langgar Bubrah itu bukan lantaran, proses pembangunan yang dibantu oleh makhluk gaib, yang belum sempat jadi karena kepergok warga.

“Nama Langgar Bubrah (langgar rusak) itu bukan karena proses pembangnannya tidak terselesaikan. Namun langgar itu memang rusak lantaran pengalihan fungsi,” tuturnya.

Dia melanjutkan, rusaknya langgar itu lantaran tidak terawat. Sehingga bangunannya rusak dengan sendirinya. Terlebih tempat tersebut sekarang berfungi sebagai tempat tasyakuran saja. Sementara itu untuk batu bata maupun tiang soko guru tunggal atau atapnya juga rusak.

“Ada juga yang mengambil bagian soko guru di langgar ini. Karena diyakini sebagai penolak balak,” paparnya.

Sementara ketiga batu itu ada manfaat dan kegunaannya saat zaman kasunanan dahulu kala. Seperti halnya batu yang berdiri itu zaman dahulu dijadikan sebagai jam matahari, untuk penunjuk waktu salat.

“Batu yang berbentuk bundar itu dijadikan sebagai umpak (tatakan tiang soko guru tunggal), dan yang batu panjang kotak dijadikan sebagai tempat bersujud imam langgar ini,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Letkol Andri Serahkan “Mahkota” Kepemimpinan Kodim 0718/Pati untuk Letkol Arief

Selengkapnya →