Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini
CERITA RAMADAN

Karomah KH R Asnawi Kudus, Penjajah Mendadak Takut  Saat Hendak Memenjarakannya



   /  @ 16:05:33  /  14 Juni 2016

    Print       Email
KH R Asnawi Kudus

KH R Asnawi Kudus

 

MuriaNewsCom, Kudus – KH R Asnawi merupakan salah seorang panutan di Kudus dan sekitarnya. Hal itu tak lepas dari sepak terjangnya ketika masih hidup. Tidak heran, jika sampai sekarang jejak keilmuannya masih terus berkembang.

Di antaranya, lembaga pendidikan yang telah didirikan. Seperti Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin dan Madrasah Qudsiyyah.

Dikutip dari buku Kyai Tanpa Pesantren (Potret Kyai Kudus) karya Prof H Abdurrahman Mas’ud, PH D. KH R Asnawi dilahirkan pada 1861 M/1281 H di Damaran, Kecamatan Kota, Kudus. Bayi tersebut dinamai Raden Ahmad Syamsi. Putra dari pasangan H Abdullah Husninn dan Raden Sarbinah.

Abdullah Husnin menginginkan kelak anaknya pandai di bidang agama dan piawai dalam berdagang. Demi keinginan mulyanya, Abdullah Husnin mulanya mengajari anaknya sendiri. Sebab di Damaran, syarat hidup sempurna dalam masyarakat beragama Islam adalah mahir membaca Alquran.

Pada 1876, orang tua memboyong keluarga ke Tulungagung, Jawa Timur. Husnin mengajari Syamsi berdagang saat pagi hari, dan saat sore hingga malam mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulungagung.

Adapun soal perubahan nama, Ahmad Syamsi dipakai mulai lahir sampai usia 25 tahun. Sepulang dari haji pertama pada 1886, namanya diganti jadi Raden Haji Ilyas. Pergantian nama sepulang dari haji merupakan hal wajar. Pada haji kali ketiga, namanya pun berganti jadi Raden Haji Asnawi. Nama terakhirlah yang terkenal dan dipakai.

Karena sosoknya itulah, masyarakat setempat menyebutnya Kiai Haji Raden Asnawi (KH R Asnawi). Selama hidup, KH R Asnawi memiliki pendirian teguh. Prinsip hidupnya keras dan watak perjuangannya terkenal galak. Hal ini tak lepas dari era saat itu. Yakni eranya penjajah. Bahkan tidak segan-segan KH R Asnawi menyatakan, produk kolonial diharamkan. Entah itu gaya berjalannya, berdasi atau menghidupkan radio.

Kehidupan beliau dihabiskan untuk menegakkan Islam. Beberapa daerah menjadi lokasi dakwahnya. Di antaranya, Kudus, Jepara, Demak, Tegal, Pekalongan, Semarang, Gresik, Cepu, Blora dan lainnya. KH R Asnawi juga aktif mengikuti pertemuan ulama nasional mulai 1926-1956.

Karya dan peninggalannya yaitu Kitab Fashalatan, Kitab Soal Jawab Mu’takad Seket, Syair Nasionalisme Relijius, dan Shalawat Asnawiyah. Karya-karya itulah yang sampai sekarang dilestarikan oleh murid-muridnya.

Beberapa karomah yang dimilikinya adalah, membuat gentar penjajah Belanda. KH R Asnawi sempat ditahan oleh pemerintah Belanda karena dianggap sebagai penggerak kerusuhan. Ketika di penjara itulah KH R Asnawi banyak menmhabiskan waktu untuk mengajar ilmu agama dan membaca shalawat kepada para penghuni penjara.

Konon, petugas penjara tidak sanggup menjaga KH R Asnawi karena setiap saat membaca shalawat. Ruangannya dibanjiri rakyat yang ingin belajar agama. Hingga para penjaga penjara menyerah dan akhirnya KH R Asnawi dibebaskan.

Karomah lain yang dimiliki KH R Asnawi adalah sanggup membuat musuh-musuhnya lari ketakutan dari jarak jauh. Hal itu dibuktikan ketika KH R Asnawi hendak ditangkap oleh penjajah untuk ketiga kalinya. Para penjajah kabur karena takut sebelum menangkap KH R Asnawi. Karena sering masuk penjara namun selalu berakhir bebas.

Jelang wafatnya, KH R Asnawi seolah mengetahui kalau dirinya akan pergi selama-lamanya. Pada Muktamar NU XII di Jakarta, KH R Asnawi mengikuti kegiatan. Beliau menginap di rumah H Zen Muhammad, adik kandung KH Mustain di Jalan H Agus Salim Jakarta. Muktamar digelar 12-18 Desember 1959.

Saat KH Mustain menjemput KH R Asnawi untuk datang ke lokasi muktamar. KH Mustain mendengar kalimat yang tak biasa. “Hai Mustain, inilah yang merupakan terakhir kehadiranku dalam Muktamar NU, mengingat keadaanku dan kekuatan badanku.”

Tercenganglah KH Mustain. “Kalau kyai tidak dapat hadir dalam muktamar, maka sangat kami harapkan doanya.” Benar saja, pada pukul 02.30 WIB Sabtu (26/12/1959) itu, KH R Asnawi bangun dari tidurnya untuk mengambil air wudu. Istrinya, Hamdanah menemaninya. Setelah itu, KH R Asnawi kembali berbaring di atas tempat tidur. Kondisinya semakin tak berdaya. Kalimat Syahadat adalah kalimat terakhir yang mengantarkan arwahnya. Sekitar pukul 03.00 WIB, KH R Asnawi pulang ke Rahmatullah.

Berita wafatnya kiai besar itu juga disiarkan di RRI pusat Jakarta melalui berita pagi pukul 06.00. Warga Kudus khususnya, dan secara umum Rakyat Indonesia merasa kehilangan sosoknya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Karomah KH Sanusi Kudus, di Rumah tapi Datangi Undangan di Mekah

 

 

 

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Usai Duel, Maling di Raguklampitan Jepara jadi Bulan-bulanan Warga

Selengkapnya →