Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini
CERITA RAMADAN

Masjid Panggung Ini jadi Saksi Sejarah Penyebaran Islam di Purwodadi



Reporter:    /  @ 12:04:55  /  13 Juni 2016

    Print       Email
Bangunan bersejarah masjid di Purwodadi, Grobogan.

Bangunan bersejarah masjid di Purwodadi, Grobogan.

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Kini banyak berdiri bangunan masjdi di Kota Purwodadi, Grobogan. Dari sekian banyak masjid, ada salah satu yang punya nilai historis terkait penyebaran Islam di Grobogan.

Yakni, Masjid KH Burham yang berada di Kampung Jengglong Barat, Kelurahan Purwodadi. Masjid ini letaknya di pinggiran Sungai Lusi. Dari bibir sungai hanya berjarak sekitar 40 meter.

Dari keterangan warga, tempat ibadah itu dulunya dibangun oleh seorang ulama dari Jawa Timur bernama KH Konawi pada tahun 1752. Saat itu bangunannya masih kecil, hanya menampung sekitar 30 jemaah.

Pada awalnya, tempat ibadah itu dinamakan langgar atau surau. Saat itu, kondisi kampung Jengglong Barat masih berupa rawa-rawa dan belum padat penduduknya seperti sekarang. Pada awal dibangun bentuk bangunannya dibikin panggung karena daerah itu rawan banjir ketika musim hujan. Temapt ibadahnya berada di lantai atas.

Setelah KH Konawi meninggal ketika dalam perjalanan ibadah haji, penyebaran Islam diteruskan putranya, KH Burham. Setelah KH Burham meninggal, keberadaan langgar itu tetap dilestarikan dan namanya dipakai sebagai tempat ibadah tersebut sampai saat ini.

Warga hendak melakukan ibadah salat (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga hendak melakukan ibadah salat (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Seiring makin banyaknya jemaah, langgar itu sempat dipugar beberapa kali dengan bentuk tetap seperti panggung. Rehab besar-besaran dilakukan pada tahun 1992 oleh H Wodjo Karyoso, cucu dari KH Burham yang tinggal di kampung tersebut.

“Awalnya, tempat ibadah ini dipugar jadi langgar gede. Kemudian, tahun 1992 dipugar dan serambinya diperluas biar bisa menampung lebih banyak jemaah. Pada tahun 1992, tempat ini namanya berubah dari langgar menjadi Masjid KH Burham,” kata Icek Baskoro, putra sulung H Wodjo Karyoso.

Beberapa tahun lalu, dibangun pula sebuah menara yang cukup tinggi di sebelah selatan masjid. Kemudian, pada tahun 2016 ini, masjid tersebut diperluas lagi. Sampai saat ini, masjid KH Burham bisa menampung sekitar 250 jemaah.

Meski dipugar namun ada beberapa bagian bangunan lama yang tetap dipertahankan. Yakni, empat soko guru atau tiang utama bangunan dari kayu jati, lantai geladag. Kemudian, ukiran serambi dan pintu ukir kayu jati juga masih dipertahankan dan ditempatkan di bagian depan. Selain itu, bedug besar dari kayu jati utuh atau tanpa sambungan juga masih diletakkan di pojok masjid tersebut.

Editor : Akrom Hazami

 

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Kosek Kos-kosan dan Penginapan, 9 Pasangan Mesum di Grobogan Terjaring

Selengkapnya →