Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Blora  >  Artikel ini

Pasokan Gas dari Blok Gundih Blora Sempat Terhenti, Pertamina Sebut SPP Arogan



   /  @ 11:07:23  /  13 Juni 2016

    Print       Email
PEP PPGJ Blok Gundih Desa Sumber, Kecamatan Kradenan (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

PEP PPGJ Blok Gundih Desa Sumber, Kecamatan Kradenan (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

  MuriaNewsCom, Blora – Pasokan gas dari Blok Gundih menuju Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Tambaklorok Semarang yang sempat terhenti beberapa hari lalu membuat Pertamina Eksplorasi Produksi (PEP) Cepu geram kepada PT Sumber Petrindo Perkasa (SPP) sebagai operator yang menyalurkan gas dari Proyek Pengembangan Gas Jawa (PPGJ) PEP Asset 4 Field Cepu.

Agus Amperianto, Field Manager PEP Asset 4 Field Cepu menyatakan, apa yang telah dilakukan PT SPP bisa membahayakan kaelangsungan objek vital  dan juga bisa merugikan konsumen industri serta masyarakat. “Itu bisa menjadi pembelajaran prinsip bermitra dengan kami secara baik,” kata Agus kepada MuriaNewsCom.

Menurut Agus, apa yang telah dilakukan SPP sebaiknya dievaluasi. Sehingga, pihak PEP yang melakukan kerjasama dengan SPP untuk mengalirkan gas ke setiap rumah tangga melalui program jaringan gas (Jargas) tidak akan terulang lagi. “Kita tidak bisa membiarkan tindakan sewenang-wenang dengan memberhentikan pasokan gas secara sepihak,” kata Agus.

Untuk diketahui, pada  Kamis (9/6/2016), pasokan gas dari Blok Gundih menuju PLTG Tambaklorok Semarang terhenti. Namun, pada Jumat, diketahui pasokan gas telah kembali berjalan normal. “Menurut pihak SPP bahwa gas yang mereka terima saat itu off spec,” kata Agus.

Terkait hal itu, Agus mempertanyakan dengan alat analyzer apa, sehingga pihak SPP bisa menjustifikasi bahwa gas yang diterima off spec. “Harusnya ada beberapa mekanisme dalam bermitra. Selanjutnya dengan alat analyzer apa bisa mengatakan off spec,” kata Agus.

Katanya, pembacaan off spec yang disampaikan SPP adalah tidak benar. Semestinya sampel diambil di titik sales gas CPP bukan suspect point yang diambil pada jalur line SPP dan bukan merupakan spot yang disepakati.“Semestinya sampel gas pengambilannya harus diawasi dan witness kedua belah pihak antara SPP dan Pertamina EP,” kata Agus.

Selanjutnya, Agus menambahkan, SPP mengambil sampel gas pake alat analyzer yang masih belum jelas. Yakni,apakah sudah terkalibrasi dan terakreditasi resmi oleh Migas atau institusi yang ditunjuk.

Agus mengatakan, bahwa semestinya SPP melakukan pemberitahuan resmi terlebih dahulu secara tertulis agar proses ‘bean-down’ dari sumur-sumur gas Pertamina EP tidak dilakukan secara mendadak, sehingga dapat membahayakan life time sumur. “Karena perilaku seperti ini bisa mempercepat pelemahan reservoir gas. Negara akan kehilangan kesempatan pendapatan dari kegiatan industri dan merugikan masyarakat yang menggunakan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Positif  Sakit Jiwa, Pembunuh Ibu Kandung di Kudus Dibawa ke RSJ

Selengkapnya →