Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Kudus  >  Artikel ini

Jamaah Kudus Diharap Lebih Bijak Sikapi Perbedaan



Reporter:    /  @ 19:05:03  /  12 Juni 2016

    Print       Email
sukun-pengajian-2 (e)

Jamaah Majelis Tabligh Muhammadiyah sedang mendengarkan tausiyah dari Ketua PW Muhammadiyah Jateng Tafsir, dalam pengajian yang digelar Minggu (12/6/2016), di Gedung JHK. MuriaNewsCom (Faisol Hadi)

 

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pengajian Ahad Pon yang digelar Majelis Tabligh Muhammadiyah Kudus bekerja sama dengan PR Sukun, di Gedung JHK Kudus, Minggu (12/6/2016), memunculkan imbauan supaya semua pihak bisa lebih toleran terhadap setiap perbedaan.

Ketua PW Muhammadiyah Jateng Tafsir yang menjadi pembicara dalam pengajian tersebut, menekankan bahwa setiap jamaah untuk lebih bijak dalam menyikapi sebuah perbedaan.

Tafsir mencontohkan belum lama ini dirinya salat tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Di sana, ternyata salat tarawih dilangsungkan dengan 23 rakaat.

”Persis seperti warga NU yang salat tarawih di Kudus. Bahkan, dalam akhir rakaat juga menggunakan doa qunut,seperti Subuh. Jadi persis seperti dengan jamaah NU di sini,” katanya.

Hanya menurut Tafsir, terdapat perbedaan di sana. Yakni namanya bukanlah salat tarawih, namun salat lail di Bulan Ramadan. Selain nama yang beda, di sana terdapat pergantian imam hingga dua kali saat memimpin salat. Yakni tiap 10 rakaat ganti imam.

Melihat hal itu, dia berpesan kepada Muhammadiyah untuk tidak usah risau. Sebab yang demikian itu fiqih. Sementara fiqih dapat berubah, tergantung yang mengartikannya.

”Fiqih berubah itu hal yang biasa. Jadi tidak usah bingung. Sebab yang tidak berubah itu adalah syariah. Dalam hal ini adalah ajaran Allah dan Sunnah Rosul,” ujarnya.

Ia mencontohkan, dalam penentuan Ramadan dan Lebaran, beberapa kali terdapat perbedaan. Padahal tanggalnya sudah jelas. ”Itu lantaran cara menentukannya berbeda-beda. Sesuai dengan keyakinan masing-masing berdasarkan fiqih yang dipelajari. Sehingga wajar jika ada perbedaan,” ungkapnya.

Untuk itu, warga Muhammadiyah diminta tetap yakin dengan keyakinannya selama ini. Sebab apa yang dilakukan di luar Muhammadiyah belum tentu benar, demikian pula sebaliknya.

”Tidak ada yang pasti dari Rosul, bahwa salat tarawih itu 23 rakaat atau 11 rakaat. Rosul tidak bilang pasti. Dan yang kita gunakan 11 rakaat itu,adalah kata Aisyah,” tandasnya.

editor: Merie

 

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Letkol Andri Serahkan “Mahkota” Kepemimpinan Kodim 0718/Pati untuk Letkol Arief

Selengkapnya →