Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Pati  >  Artikel ini
CERITA RAMADAN

Warga Tawangrejo Pati Habiskan Ramadan di Malaysia, Begini Ceritanya



Reporter:    /  @ 17:30:26  /  11 Juni 2016

    Print       Email
Kegiatan pesantren kilat di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, sabah, Malaysia. (Dok. Erieq Danar Nugroho)

Kegiatan pesantren kilat di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, sabah, Malaysia. (Dok. Erieq Danar Nugroho)

 

MuriaNewsCom, Pati – Erieq Dhanar Nugroho, warga Desa Tawangrejo, Kecamatan Winong, Pati menghabiskan Ramadan di Sulaman, kawasan Sepanggar, Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Ada banyak cerita Ramadan yang ia ceritakan.

Erieq sendiri berangkat ke Malaysia untuk ditugaskan menjadi guru bagi pelajar di Sekolah Indonesia Luar Negeri delapan bulan yang lalu. Ramadan pertama hingga 18 Juni nanti, rencananya ia habiskan bersama murid-muridnya di Malaysia.

“Kegiatan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu saat ini pesantren kilat, sama seperti di Indonesia. Ada tadarus bersama, permainan yang mengenalkan keislaman dan keindonesiaan, lomba pasang sorban dan jilbab, hingga agenda buka bersama. Saya senang menghabiskan Ramadan bersama murid-murid Indonesia di Malaysia,” ujar Erieq saat dihubungi MuriaNewsCom, Sabtu (11/6/2016).

Uniknya, murid nonmuslim juga diberi pembelajaran keagamaan selama Ramadan. Hanya, mereka diajari keagamaan sesuai dengan keyakinannya. Sementara itu, murid muslim mengikuti pesantren kilat.

Diceritakan, anak-anak nonmuslim diberi kebebasan untuk makan dan minum di lingkungan sekolah. Sedangkan anak-anak muslim menjalankan ibadah dan bisa berdampingan secara rukun dengan anak-anak nonmuslim.

“Anak-anak dan guru sudah biasa hidup di lingkungan yang serba multikultural. Tidak ada paksaan untuk puasa. Sebaliknya, tidak ada paksaan untuk tidak puasa. Semua berjalan baik dan penuh toleransi,” tutur Erieq.

Hal itu berlaku di daerah Erieq tinggal, di luar sekolah. Menurutnya, kesan Ramadan di Sabah begitu damai dan saling menghargai. Umat nonmuslim saat makan, biasanya meminta izin kepada umat Muslim, “Maaf ya, saya tidak puasa.”

Begitu pula dengan umat Muslim, Erieq menceritakan biasanya dijawab dengan kata, “Tak apa. Saya yang puasa, ya saya yang ndak boleh makan. Kamu ndak puasa ya makan seja.”

“Pada 18 Juni nanti rencananya saya pulang ke Pati. Meski begitu terkesan dengan suasana Ramadan di Sabah yang juga dibanjiri pasar Ramadan, tetapi saya rindu menghabiskan Ramadan di kampung halaman sendiri,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Kosek Kos-kosan dan Penginapan, 9 Pasangan Mesum di Grobogan Terjaring

Selengkapnya →