Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini
CERITA RAMADAN

Unik, Cara Bocah Grobogan Bangunkan Ibu-ibu Biar Enggak Kesiangan Sahur



Reporter:    /  @ 22:00:59  /  10 Juni 2016

    Print       Email
Sejumlah anak tengah berkeliling kampung untuk membangunkan warga supaya segera bersahur di Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah anak tengah berkeliling kampung untuk membangunkan warga supaya segera bersahur di Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski tidak semarak beberapa tahun lalu namun, tradisi keliling kampung untuk membangunkan orang buat bersahur masih bisa dijumpai. Aktivitas ini biasanya dilakukan oleh anak-anak dengan memakai alat musik seadanya.

Aktivitas seperti ini biasa disebut kotekan.  Di tempat lain ada yang menyebut tongtek atau patrol.

Dari pantauan, aktivitas kotekan ini masih terlihat di beberapa perkampungan padat penduduk di kawasan kota Purwodadi. Seperti kampung Jengglong, Jetis, Kuripan, dan Plindungan.

Selepas dini hari, suasana di sejumlah perkampungan itu mulai ramai. Beberapa bocah sudah bersiap-siap keliling kampung untuk membangunkan warga agar makan sahur.

“Biasanya kami mulai keliling kampung mulai pukul 01.30 WIB sampai pukul 03.00 WB. Kegiatan ini kami lakukan tiap malam asal tidak turun hujan,” kata Hendra, bocah yang tinggal di Kampung Jengglong Barat.

Pelaku kotekan ini biasanya membentuk sebuah tim sendiri. Masing-masing tim beranggota lima sampai 10 orang. Kebanyakan anggota tim ini adalah anak-anak dan remaja (anak SMP).

Sambil beteriak ‘Sahur…sahur’ rombongan bocah ini juga membunyikan berbagai macam barang yang mirip alunan musik. Misalnya, sendok, botol, piring, panci, wajan, ember dan galon air.

Hadirnya kotekan itu dirasa cukup membantu warga sekitar. Masalahnya, mereka tidak khawatir terlambat bangun untuk bersahur karena dibangunkan bocah-bocah tersebut.

Meski begitu, ada pula yang merasa sedikit terganggu dengan kehadiran tim kotekan itu. Soalnya, mereka terkadang kaget dengan suara musik yang dipukul terlalu keras dan tiba-tiba.

“Adanya anak-anak kotekan inilah yang jadi salah satu ciri khas tiap puasa. Jadi kehadirannya memang cukup membantu, terutama ibu-ibu yang harus bangun lebih awal buat menyiapkan menu sahur buat keluarga,” kata Lisgianti, warga Jengglong Barat.

Editor : Akrom Hazami

 

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Jelang Libur Akhir Tahun, Pantai Kartini Siapkan Personel Tambahan

Selengkapnya →