Loading...
You are here:  Home  >  Ekonomi  >  Artikel ini

Ratusan Buruh Pabrik Pengolahan Kayu Setengah Jadi di Jepara Dirumahkan



   /  @ 10:21:34  /  9 Juni 2016

    Print       Email
 Pelaku usaha mebel dan furnitur, Andang W Triyanto (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)


Pelaku usaha mebel dan furnitur, Andang W Triyanto (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

   MuriaNewsCom, Jepara – Sejumlah perusahaan ekspor barecore atau pengolahan kayu setengah jadi untuk produk furnitur maupun dinding ramah lingkungan di Jepara merasakan kelesuan. Bahkan, ada sejumlah perusahaan yang terpaksa merumahkan karyawan atau buruhnya akibat kelesuan pasar barecore tersebut.

Pelaku usaha mebel dan furnitur, Andang W Triyanto mengemukakan, perusahaan barecore di Jepara berkisar antara 15 – 20 unit yang tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Tahunan, Bangsri, Mlonggo, Batealit dan Kalinyamatan. Saat ini, sejumlah pabrik kayu barecore mulai merumahkan sebagian pekerjanya seiring terbatasnya permintaan dari pasar Taiwan dan Cina.

“Karena lesunya ekspor kayu barecore ke Taiwan dan Cina saat ini, tercatat sudah ada lima perusahaan yang menutup pabriknya atau tidak beroperasi. Dampaknya tidak hanya di Jepara tetapi juga nasional,” ujar Andang, Kamis (9/6/2016).

Menurut mantan pengurus Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) ini,jumlah pekerja di lima perusahaan itu berkisar 300 – 400 orang. Dari jumlah itu separuh di antaranya dirumahkan. Sedang separuhnya lagi masih dipekerjakan.

“Namun yang masih dipekerjakan tidak lagi di pabrik kayu barecore, tapi di perusahaan mebel lain milik pengusaha yang sama. Karena lazimnya, pengusaha kayu barecore juga punya mebel,” ungkapnya.

Menurut Andang, sektor barecore yang produksinya banyak bertumpu pada mesin mulai eksis di Jepara sekitar lima tahun lalu. Pemilik barecore, lazimnya memiliki pabrik mebel lain yang lebih dulu dioperasikan dan hingga kini masih eksis.

Secara nasional, saat ini suplai barecore di Indonesia sudah mencapai kisaran 6.000 kontainer per bulan. Sedang permintaan dari Cina dan Taiwan hanya 3.000 – 4.000 kontainer per bulan. Kondisi itu membuat nilai jual melemah, sehingga tidak sebanding dengan biaya produksi dan harga kayu albasia yang merupakan bahan baku barecore.

Industri barecore di Jepara, kata Andang, tak langsung menerima order dari buyer asal Cina atau Taiwan. Sebab, ada agen penghubung antara pihak eksportir dan importir. Kondisi itu tentu saja berimbas pada harga jual produk barecore asal Jepara. Harga jual itu tak sebanding dengan  biaya produksi yang digelontorkan. Terlebih bahan baku kayu albasia lebih banyak didatangkan dari luar daerah.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Viral, Video Polisi di Grobogan Diomeli Warga saat Melangsungkan Razia, Begini Penjelasan Kapolres

Selengkapnya →