Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Blora  >  Artikel ini

Cerita Masjid Agung Baitunnur Blora yang Juga Disebut Masjid Doro Ndekem



   /  @ 20:02:42  /  8 Juni 2016

    Print       Email
 Masjid Agung Baitunnur Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)


Masjid Agung Baitunnur Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

 

MuriaNewsCom, Blora – Masjid Agung Baitunnur Blora menjadi salah satu ikon bagi Kabupaten Blora. Salah satu masjid tertua di Kabupaten Blora ini, tak lepas dengan cerita dan sejarah terkait perkembangan Islam dan pendiri masjid tersebut.

Sebelum dikenal dengan Masjid Baitunnur, masjid yang berada di sudut bagian barat Alun-alun Blora ini, dulunya dikenal dengan sebutan Masjid Doro Ndekem atau merpati yang duduk. Sebab, saat berdirinya Masjid Agung Baitunnur Blora ini konon letak tanahnya lebih rendah daripada Alun-alun Blora.Sehingga tampak seperti burung merpati yang sedang duduk, yang akhirnya masyarakat memberi nama Masjid Doro Ndekem sebelum dinamakan sebagai Masjid Agung Baitunnur Blora.

Masjid yang bangunannya masih mempertahankan ornament-ornamen klasik ini, dibangun pada tahun 1722 Masehi.  Kemudian, pada tahun 1744 Masehi mengalami pemugaran yang diprakarsai oleh Bupati Blora Raden Tumenggung Djajeng Tirtonoto dengan Surya Cengkala “Catur Pandhita Sabdaning Ratu”.

Pada tahun 1968 dan 1975 juga mengalami pemugaran, kali ini diprakarsai Bupati Supadi Yudhodarmo dengan tambahan bangunan menara pada sisi kanan depan masjid. Pada mimbar terdapat angka tahun dengan huruf Arab dan Jawa, dan terbaca 1718.

Tidak jauh dari Masjid Agung Blora, terdapat Makam Sunan Pojok yang merupakan pendiri masjid ini. Sunan Pojok yang dimakamkan di Makam Gedong Blora, Jl. Mr. Iskandar 1/1 Blora atau sebelah selatan Alun-alun Blora, merupakan makam pindahan yang dilakukan oleh R.T. Djojodipo, putra Sunan Pojok.

Masjid ini, juga mengalami penambahan di sisi kanan dan kiri masjid untuk menampung jemaah lebih banyak. Di sini, juga bisa ditemui komponen artefak kuno yang terdapat di masjid dan serambi, antara lain mimbar dari kayu berukir, maksurah, dan 2 buah bedug.

Selain itu terdapat prasasti berhuruf Jawa di atas ambang pintu masuk ke ruang utama dan angka tahun 1892 di daun pintu. Pada pintu selatan terdapat angka tahun 1822 dan pintu sebelah utara 1310 H.

 Editor : Kholistiono

 

 

 

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Kosek Kos-kosan dan Penginapan, 9 Pasangan Mesum di Grobogan Terjaring

Selengkapnya →