Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Rembang  >  Artikel ini

Kerajinan Kulit Ikan Pari Rembang Tembus Jerman, Salut



   /  @ 15:00:35  /  3 Juni 2016

    Print       Email
Kerajinan kulit hasil karya Maftuhah saat dipamerka di Rembang Expo. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

Kerajinan kulit hasil karya Maftuhah saat dipamerka di Rembang Expo. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Kulit Ikan Pari, oleh Maftuhah diproduksi menjadi beragam kerajinan, di antaranya dompet, tas, sabuk, gantungan kunci, dan bahkan sepatu. Ia bersama suaminya menjalankan produksinya di Desa Turus Gede RT 1 RW 1, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang.

Usaha yang digeluti sejak tiga tahun lalu ini, ternyata tidak hanya diminati konsumen dari dalam negeri saja, namun kini produksinya tersebut sudah merambah ke pasar mancanegara.

“Permintaan dari Malaysia, Singapura, Cina dan Jerman, beberapa sudah ada. Karena, untuk kerajinan kulit Ikan Pari ini memang peluang bersaing di luar negeri masih cukup besar,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Selain ke luar negeri, pangsa pasar yang sangat menjanjikan adalah dari dalam negeri. Permintaan dari berbagai daerah di Indonesia, katanya juga banyak. Seperti halnya Yogyakarta, Jakarta, Semarang dan Bali.

Untuk memenuhi permintaan tersebut, sejauh ini masih bisa terpenuhi. Meski sebenarnya untuk tenaga masih kewalahan. “Tenaga kerjanya kita yang masih agak minim. Tapi, kalau untuk bahan baku sebenarnya melimpah. Selain dari Rembang sendiri, kita juga terkadang mengambil dari Lamongan dan Tuban,” ungkapnya.

Dirinya mengatakan, kelebihan dari kerajinan kulit Ikan Pari tersebut, di antaranya unik, mewah, memiliki daya tahan yang lama atau awet serta elegan.

Namun memang diakuinya, untuk, konsumen lokal dari Rembang, saat ini masih belum cukup banyak. Hal itu menurutnya cukup wajar, sebab, masyarakat menganggap produksinya agak mahal untuk ukuran lokal.

“Kalau untuk masyarakat lokal, memang kadang menganggap mahal. Tapi, bagi mereka yang memang sudah tahu mengenai kualitas dan bahan baku yang dibuat, biasanya harga yang kami patok sangat terjangkau. Biasanya itu nelayan-nelayan atau bos kapal, yang terkadang ngambil partai besar,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Kosek Kos-kosan dan Penginapan, 9 Pasangan Mesum di Grobogan Terjaring

Selengkapnya →