Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Blora  >  Artikel ini

Referensi Adat Samin, Serat Tapel Adam Dibedah   



   /  @ 05:00:09  /  3 Juni 2016

    Print       Email
serat apel e

Sarasehan bedah Serat Tapel Adam. (MuraiNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Karya sastra klasik, Serat Tapel Adam, sebagai salah satu referensi ajaran Samin Sikep, Kamis (2/6/2016), dibedah. Totok Yasmiran dan Riyadi Joko Lelono, didatangkan sebagai narasumber. Keduanya merupakan pakar naskah Jawa kuno dari bidang penaskahan kuno Museum Budaya Radya Pustaka Solo.

Totok Yasmiran mengatakan, Serat Tapel Adam ditulis atau tepatnya disalin di Surakarta pada tahun 1930 oleh Raden Sastradiwirya.

“Hal itu dapat dilihat dari pupuh pembuka pada awal syair di awal suku kata setiap gatranya jika digabung menunjukkan sandiasma (nama yang disamarkan,red),” ungkapnya.

Pupuh tersebut, lanjut Totok, ditandai dengan tanggal 23 Pasa Ehe 1860 (22 Februari 1930) dan pada bait akhir, 29 Sawal Ehe 1860 (29 Maret 1930). Jadi lama penulisannya 35 hari.

Pada pupuh pembuka, diduga merupakan gubahan dari Serat Ambiya karya R.Ng.Yasadipura II (R.T Sastranagara) 1756-1844. Serat tersebut ditulis pada kertas ukuran folio sebanyak 117 halaman dengan ukuran 30.9×18.8 sentimeter ditambah dua halaman indeks. Warna tinta hitam, dan setiap pergantian pupuh ditandai dengan tinta merah.

Tulisannya beraksara Jawa berupa tempat syair macapat, dengan cara penulisan setiap halaman terdiri 35 baris. Penulisannya diletakkan di bawah garis (gandul). Naskah Tapel Adam dipaparkan dengan bahasa Jawa Baru ragam Ngoko dan Krama serta terdapat kata serapan bahasa Kawi dan dan Arab.

Serat Tapel Adam, secara umum menceritakan sejarah kenabian mulai Nabi Adam hingga Nabi Muhammad dalam perjuangannya dan menyebarkan ajarannya. “Dalam serat tersebut, yang dikisahkan Nabinya seperti yang umat Islam umumnya pelajari, ada 25,” ungkapnya.

Dalam serat Tapel Adam diceritakan awal penciptaan manusia, yaitu Tuhan pertama kali menciptakan cahaya, setelah 70 ribu tahun berubah menjadi air, 70 ribu tahun kemudian air berubah menjadi gelembung buih dan uap, kemudian uap menjadi langit lapis tujuh, dan gelembung buih menjadi bumi lapis tujuh.

Riyadi Joko Lelono, narasumber yang lain, mengupas munculnya ide diskusi tersebut adalah adanya Serat Tapel Adam di Blora. Bahkan salah satu isinya diduga menjadi bagian referensi penyebaran ajaran Samin.

Dalam pemaparannya, antara lain dikisahkan kisah teladan dan cerita unik, yakni cerita Iblis Ijajil, Adam diciptakan, nama unik, kejayaan Islam, cerita Rubiyah.

Hadir dalam sarasehan, perwakilan sedulur samin sikep Blimbing Sambongrejo, Pramugi Prawirowijoyo, samin sikep Klopoduwur, Lasio, praktisi dan pegiat budaya serta sastra Jawa.

Di akhir sarasehan, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika, Suntoyo, mengatakan untuk mengetahui secara detail bahwa Serat Tapel Adam. Sementara, untuk mengetahui paugeran (panutan yang baik dalam hidup,red), pihaknya akan melakukan kajian lebih lanjut. “Kami akan selenggarakan lagi, tentang ajaran Sikep perlu dikaji yang selama ini menjadi paugeran,” pungkas Suntoyo.

Editor : Akrom Hazami

 

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Usai Duel, Maling di Raguklampitan Jepara jadi Bulan-bulanan Warga

Selengkapnya →